Ruang yang Belum Kutemukan Namanya

Seseorang sedang merenung

Beberapa minggu terakhir ini, ada rasa yang susah aku jelaskan. Bukan sedih, bukan juga stres yang jelas sebabnya. Lebih ke... kosong. Ada yang kurang, tapi aku sendiri nggak tahu apa.

Aku udah coba banyak cara buat ngisi rasa itu. Beberesin rumah. Ngurus kucing. Ngerawat kolam ikan. Bahkan pas WFH, aku sengaja kerja di luar rumah, ganti suasana, biar pikiran nggak buntu. Tapi anehnya, semakin aku coba isi, rasanya semakin nggak penuh-penuh juga. Kayak minum air tapi hausnya nggak pernah hilang.

Awalnya aku pikir ini cuma pikiran sampah. Overthinking biasa. Tapi setelah dipikir pelan-pelan, ternyata ada akarnya, dan itu ada hubungannya sama kerjaan.

Kerjaan yang Serba Nanggung

Aku kerja sebagai SEO Specialist, full remote, dengan gaji yang jujur aja, jauh dari besar. KPI-nya nggak jelas, semacam "suka-suka aku sendiri" karena memang nggak ada yang benar-benar paham gimana ngukur kerjaan SEO di kantor ini. Kadang aku dikasih tugas yang sebenarnya di luar scope-ku, sesuatu yang aku cuma catat, bukan yang aku jalankan sendiri. Sempat kepikiran, jangan-jangan aku pelan-pelan mau "digeser" dari kantor.

Tapi kalau dipikir ulang, itu nggak sepenuhnya benar. Akses-akses penting — domain, server, hosting — semuanya masih penuh di tangan aku. Bahkan terakhir ke kantor, aku masih ditanya progress salah satu sistem internal yang lagi aku bikin. Kalau memang mau nyingkirin aku, harusnya akses-akses krusial itu duluan yang dicabut, bukan malah dipercayakan terus.

Jadi bukan soal disingkirkan. Ini lebih ke soal kerjaan yang nggak pernah benar-benar didefinisikan. Aku jadi semacam generalis digital yang nyerempet ke mana-mana, karena memang belum ada yang mikirin serius soal role-ku sendiri.

Kejujuran yang Kadang Nggak Enak Sendiri

Yang bikin aku mikir lebih dalam adalah ini: kalaupun aku nggak ngapa-ngapain, kemungkinan besar nggak akan ada yang tahu. Nggak ada yang ngawasin ketat. Tapi rasanya tetap nggak enak kalau aku beneran diem aja.

Aku sadar, itu bukan soal takut ketahuan. Itu soal standar yang aku pegang sendiri — kalau digaji, ya harus kasih value yang sepadan, sekecil apapun gajinya. Tapi lama-lama aku sadar, itu bisa jadi beban yang nggak keliatan. Aku terus push diri sendiri buat kerja maksimal, buat standar yang aku bikin sendiri, bukan yang diminta orang lain. Dan hasilnya — gaji, pengakuan, kejelasan role — nggak juga naik-naik.

Mungkin di situ salah satu akar dari rasa "meaningless" itu. Gelasnya terus keisi tanggung jawab, tapi yang sebenarnya haus itu bukan tanggung jawab. Mungkin lebih ke rasa diakui, dihargai, atau berkembang.

Kenapa Aku Masih di Sini

Terus kenapa aku nggak resign aja kalau memang segininya?

Karena kerjaan ini, dengan segala keanehannya, ternyata linier sama tujuan besarku: jadi Fullstack Developer. Akses penuh ke server, hosting, project Laravel beneran yang jalan di production — itu semua pengalaman yang mahal kalau harus dicari di tempat lain dengan gaji sekecil ini. Jadi selama ini aku sebenarnya sedang menukar gaji kecil dengan akses belajar dan eksperimen yang besar.

Tapi aku juga jujur sama diri sendiri: ada rasa takut buat loncat lebih tinggi. Umur 37, resign rasanya belum cukup pede. Skill web development-ku juga belum ada demand di daerah Temanggung-Magelang, satu-satunya opsi realistis kalau aku harus commuting. Freelance juga kerasa makin sulit — bahkan senior developer sekarang lebih milih ngerjain sendiri daripada lempar proyek ke orang lain, atau UMKM kecil udah bisa build kebutuhan digitalnya sendiri pakai AI.

Tiga ketakutan itu nyata. Tapi begitu ditelisik satu-satu, nggak sepenuhnya sekokoh yang aku kira.

Umur 37 itu bukan cuma soal "udah telat". Itu juga berarti aku punya pengalaman kerja nyata — bukan cuma tutorial. Aku pernah benerin sistem approval yang berantakan, deploy project ke shared hosting dengan workflow Git custom, troubleshoot server produksi yang down. Itu portofolio yang beda kelas dibanding developer junior yang baru punya to-do list app.

Skill belum ada demand lokal — itu fakta pasar Temanggung-Magelang, bukan fakta soal kemampuanku. Kalau tujuannya kerja remote, pasar developer jauh lebih terbuka dibanding SEO, dan aku udah terbiasa kerja remote.

Freelance tergerus AI — itu juga benar, tapi yang tergerus itu kerjaan generic. Bikin landing page simpel, nulis artikel template. Kerjaan yang butuh mikir konteks bisnis, debug masalah spesifik, itu masih butuh manusia yang paham duduk perkaranya.

Belum Ada Kesimpulan

Aku belum tahu jawaban pastinya. Apakah tetap bertahan sambil terus belajar, sampai suatu saat skill dan portofolioku cukup buat loncat. Atau mulai serius cari kerja lain sambil tetap di sini, biar ada opsi kalau memang waktunya sudah pas.

Yang aku tahu sekarang, rasa "meaningless" ini bukan berarti hidupku nggak berarti. Mungkin itu cuma sinyal bahwa ada bagian dari diriku yang selama ini nggak diberi ruang untuk berkembang secukupnya — dan aku baru mulai dengar sinyal itu.

Nggak apa-apa juga kalau tulisan ini nggak berakhir dengan solusi rapi. Kadang nulis itu bukan buat nemuin jawaban. Cuma buat berhenti sebentar, dan akhirnya bisa lihat lebih jelas apa yang sebenarnya lagi aku rasain.

Temanggung, 18 Agustus 2026

 

Tidak ada komentar