Dulu aku kenal komputer pertama kali saat pelajaran TIK di bangku SMA. Semuanya terasa biasa saja. Masuk kelas, ngerjain tugas, pulang. Komputer waktu itu bukan sesuatu yang spesial—hanya alat bantu sekolah, tidak lebih.
Masuk kuliah pun ceritanya kurang lebih sama. Bedanya cuma nongkrong lebih sering sama teman-teman. Orang tuaku waktu SMA cukup strict, jadi begitu kuliah rasanya agak “bebas”. Meski begitu, aku masih punya tanggungan setor es, bungkus es, sampai ngasih makan ayam ternak punya kakak. Masa SMA yang, kalau dipikir sekarang, cukup embuh. Harusnya fokus belajar, malah sibuk ngurus hal-hal random. LOL :D
Masa Kuliah dan PC Pertama yang Mengubah Segalanya
Titik balikku dengan komputer justru datang saat kuliah. Aku memilih jurusan yang jarang diambil teman-teman seangkatan: Pendidikan Bahasa Inggris. Entah kenapa, mungkin karena saat itu aku suka belajar vocabulary bahasa Inggris. Aku bahkan sempat daftar dua jurusan sekaligus—TI dan PBI—di salah satu kampus swasta ternama di Yogyakarta.
Karena gap year dua tahun, aku akhirnya satu kontrakan dengan teman SMA. Dari situ, perlahan aku mulai benar-benar menggunakan komputer secara intens, terutama setelah punya uang untuk beli PC sendiri.
Saat itu aku merakit PC pertamaku. Ya, dibantu teman juga sih. Aku masih ingat, ditemani teman yang kuliah IT, belanja komponen di Quadra Jakal, Yogyakarta—entah sekarang tokonya masih ada atau tidak.
Berbekal uang dari ibuk, aku beli sendiri prosesor, motherboard, GPU, PSU, semuanya dengan panduan temanku biar sesuai kebutuhan dan budget. Kalau tidak salah ingat, spesifikasinya kurang lebih seperti ini:
- Processor AMD Phenom II X2
- Motherboard MSI AM3 (760GM P34 FX – chipset rusak karena PC nyala 3 malam saat recovery HDD teman)
- Upgrade ke MSI 870 P34 FX
- RAM G.Skill Ripjaws 2×2 GB
- GPU MSI GeForce GTX 550 Ti Cyclone II
- PSU Thermaltake 500 Watt (real ±480 Watt)
- HDD WDC Blue 500 GB (menyusul mati)
- HDD WDC Blue 1 TB
Buat ukuran saat itu, PC ini sangar. Game berat seperti Battlefield 2 sampai 4 bisa jalan rata kanan. Assassin’s Creed sampai Brotherhood lancar. NFS dari Underground, Most Wanted, Carbon, sampai Hot Pursuit tamat. Bahkan aku sempat beli heatsink fan Xigmatek Thorhammer dan menjalankan PC tanpa casing. Masa-masa muda yang membara, wkwkwk.
Windows Hoping: Gonta-ganti Windows Bukan Karena Error
Dari PC rakitan itu, aku mulai kenal dunia sistem operasi. Waktu itu pilihannya cuma dua: Windows dan Linux. macOS belum kebayang sama sekali, karena user di sekitarku mayoritas Windows.
Aku sering install ulang Windows. Bukan karena error parah, tapi karena penasaran. Temanku yang anak IT punya banyak master OS Windows. Dari Windows XP, XP Black, Vista, Vista Red, sampai Windows 7. Setiap versi terasa beda. Setiap install ulang selalu ada sensasi “wah, ini lebih enak”.
Belakangan, setelah ngobrol dan mikir ulang, aku sadar: ini bukan distro hopping. Tapi aku tetap menyebutnya Windows Hoping—istilah versiku sendiri—karena rasanya memang seperti lompat-lompat, mencari yang paling pas, walau basisnya tetap Windows.
Pertama Kali Kenal Linux dan Rasa Kagum yang Aneh
Selain Windows, aku juga sempat dual boot dengan Linux. Waktu itu temanku bilang ada Ubuntu CD ori dan gratis. Versinya kalau tidak salah Ubuntu 11.10.
Aku install Ubuntu itu ya… waton saja. Dipandu teman juga sih, karena dia aktif di komunitas Linux jurusannya. Saat itu Ubuntu terkenal dengan Compiz, animasi jendela terbakar saat aplikasi ditutup. Keren banget rasanya.
Tapi tentu saja, banyak hal bikin bingung:
- Harus lewat GRUB setiap nyalain PC
- Tombol close di kiri, bukan kanan
- Terminal dengan perintah
sudo apt-get install - Typo berkali-kali, salah config berkali-kali
Walau cuma waton install, dari situ aku mulai kenal terminal dan perintah dasar Linux. Sedikit, tapi nempel.
Linux, Kali Ini dengan Cara yang Lebih Dewasa
Hari ini, dengan lompatan teknologi dan informasi yang sangat masif—apalagi dengan kehadiran LLM alias AI—aku bisa dual boot Ubuntu 22.04 LTS di lingkungan macOS pada perangkat lawas ini. Siapa sangka? Wkakakaka.
Dengan bantuan AI (ChatGPT), aku jadi lebih pede mendalami Linux. Aku eksplor perintah-perintah CLI, mulai nyaman dengan terminal, dan perlahan familiar dengan lingkungan server production—walau masih sebatas VPS website kantor, hehe.
Rasanya seperti jiwa lama yang bangkit lagi. Bukan karena distronya, tapi karena rasa penasaran yang ternyata belum mati.
Sekadar Penutup dari Curhat Panjang
Tulisan ini sebenarnya cuma catatan pribadi. Tentang perjalanan kenal komputer, nyasar sebentar, lalu balik lagi. Aku masih ingin terus belajar di sisa umur ini, sambil mengejar ketertinggalan dan mengaktualisasikan diri di bidang IT yang dulu sempat tertunda.
Kalau kebetulan kamu sampai di sini dan butuh bantuan optimasi website (SEO), pembuatan website, atau maintenance server tipis-tipis—ya, mungkin memang waktunya saling sapa.




Tidak ada komentar